KETAHANAN KELUARGA

KETAHANAN KELUARGA

 

Ketahanan keluarga (family strength atau family resilience) merupakan kondisi kecukupan dan kesinambungan akses terhadap pendapatan dan sumber daya untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar antara lain: pangan, air bersih, pelayanan kesehatan, kesempatan pendidikan, perumahan, waktu untuk berpartisipasi di masyarakat, dan integrasi sosial (Frankenberger, 1998). Pandangan lain mendefinisikan ketahanan keluarga sebagai suatu kondisi dinamik keluarga yang memiliki keuletan, ketangguhan, dan kemampuan fisik, materil, dan mental untuk hidup secara mandiri (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1994). Ketahanan keluarga juga mengandung maksud sebagai kemampuan keluarga untuk mengembangkan dirinya untuk hidup secara harmonis, sejahtera dan bahagia lahir dan batin.

Dalam pandangan yang lain, ketahanan keluarga mencakup kemampuan keluarga untuk mengelola sumber daya dan masalah untuk mencapai kesejahteraan (Sunarti, 2001), kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi terhadap berbagai kondisi yang senantiasa berubah secara dinamis serta memiliki sikap positif terhadap berbagai tantangan kehidupan keluarga (Walsh, 1996). Dari sudut pandang yang lain, ketahanan keluarga didefinisikan sebagai kemampuan keluarga untuk menangkal atau melindungi diri dari berbagai permasalahan atau ancaman kehidupan baik yang datang dari dalam keluarga itu sendiri maupun dari luar keluarga seperti lingkungan, komunitas, masyarakat, maupun negara. Setidaknya ada 5 (lima) indikasi yang menggambarkan tingkat ketahanan suatu keluarga yaitu:

  1. adanya sikap saling melayani sebagai tanda kemuliaan;
  2. adanya keakraban antara suami dan istri menuju kualitas perkawinan yang baik;
  3. adanya orang tua yang mengajar dan melatih anak-anaknya dengan berbagai tantangan kreatif, pelatihan yang konsisten, dan mengembangkan keterampilan;
  4. adanya suami dan istri yang memimpin seluruh anggota keluarganya dengan penuh kasih sayang;
  5. adanya anak-anak yang menaati dan menghormati orang tuanya.

Dalam konteks yang lebih luas, ketahanan keluarga diidentikan dengan ketahanan sosial karena keluarga merupakan unit terkecil dalam sistem sosial. BPS mendefinisikan ketahanan sosial sebagai hasil dari dinamika sosial skala lokal dan global. Dinamika sosial skala lokal dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu dinamika sistem sosial skala lokal (small scale system) itu sendiri dan karakteristik sistem sosial skala lokal (characteristics of the small scale system) yang disebut sebagai Faktor Komunal (Communal Factors). Faktor komunal yang berpengaruh terhadap ketahanan sosial antara lain:

  1. organisasi sosial reproduksi meliputi: formasi keluarga, system pernikahan dan pertalian darah, serta prinsip turunan, warisan, dan suksesi;
  2. organisasi sosial produksi meliputi: stratifikasi dan pembagian kerja berdasarkan gender, usia, dan kelas sosial;
  3. organisasi sosial partisipasi politik meliputi: kepemimpinan lokal dan pola manajemen;
  4. organisasi sosial keagamaan meliputi: hukuman dan insentif yang memperkuat norma sosial yang berlaku.

Sementara itu, dinamika sosial skala global merujuk pada dinamika sosial pada system sosial skala global (large scale system) yang disebut sebagai Faktor Sosial (Societal Factors). Faktor sosial yang berpengaruh terhadap ketahanan sosial antara lain:

  1. derajat integrasi ke sistem ekonomi pasar global (misalnya prevalensi upah/gaji buruh, moneterisasi, mekanisasi, penggunaan teknologi, penanaman modal asing, orientasi dan ketergantungan ekspor, dan ketergantungan impor);
  2. derasnya arus pengetahuan dan informasi global;
  3. derajat integrasi ke dalam tata kehidupan perkotaan;
  4. penerapan kebijakan skala internasional, nasional, non-lokal berpengaruh terhadap wilayah (misal kebijakan terkait kependudukan, kesehatan dan pendidikan).

 

Akhirnya, ketahanan sosial sebagai hasil dari dinamika sosial skala lokal dan global tersebut kemudian diidentifikasi oleh BPS sebagai:

  1. tingkat perlindungan yang diberikan kepada penduduk lanjut usia, anak-anak, perempuan, orang dengan disabilitas;
  2. tingkat dukungan yang diberikan kepada individu maupun keluarga/rumah tangga rentan seperti keluarga miskin, orang tua tunggal, anak-anak dan penduduk lanjut usia yang terlantar, orang dengan disabilitas yang terlantar;
  3. tingkat partisipasi individu, kelompok dan keluarga dalam kehidupan sosial dan politik;
  4. tingkat konservasi/keberlanjutan sumber daya lingkungan bagi penghidupan masyarakat lokal;
  5. tingkat kontrol sosial terhadap kekerasan (rumah tangga, komunitas, dan lintas budaya).

 

Dengan demikian, keluarga dikatakan memiliki tingkat ketahanan keluarga yang tinggi apabila memenuhi beberapa aspek yaitu:

  1. ketahanan fisik yaitu terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan;
  2. ketahanan sosial yaitu berorientasi pada nilai agama, komunikasi yang efektif, dan komitmen keluarga tinggi;
  3. ketahanan psikologis meliputi kemampuan penanggulangan masalah nonfisik, pengendalian emosi secara positif, konsep diri positif, dan kepedulian suami terhadap istri.

 

Salah satu dimensi ketahanan keuarga yang perlu diperhatikan adalah dimensi psikologis. Dimensi ini terdiri atas dua variabel yaitu (1) variabel keharmonisan keluarga dan (2) variabel kepatuhan terhadap hukum (dilihat dari pengalaman rumah tangga menjadi korban tindak pidana). Kedua variabel tersebut telah sesuai dengan konsep yang menyebutkan bahwa keharmonisan keluarga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hidup manusia, karena keluarga merupakan unit terkecil dalam sistem sosial di masyarakat yang memiliki peranan penting sebagai tempat anak bersosialisasi dan membangun relasi dengan lingkungannya seusia dini. Sedangkan variabel kepatuhan terhadap hukum dimaksudkan untuk melihat kepatuhan keluarga terhadap hukum dengan tidak pernah melakukan tindakan kriminalitas atau pelanggaran hukum.

Keharmonisan keluarga menjadi salah satu variabel penting dalam menyusun ketahanan sosial psikologis dalam keluarga. Keharmonisan keluarga ini berkaitan dengan ketahanan psikologis keluarga, dimana keluarga dikatakan memiliki ketahanan psikologis yang baik apabila keluarga mampu menanggulangi masalah nonfisik, pengendalian emosi secara positif, konsep diri positif (termasuk terhadap harapan dan kepuasan), dan kepedulian suami kepada istri (Sunarti dalam Puspitawati, 2012). Indikator yang mendukung pada studi ini adalah bagaimana sikap anti kekerasan terhadap perempuan dan prilaku anti kekerasan terhadap anak di dalam keluarga. Keluarga yang memiliki sikap anti kekerasan baik terhadap perempuan maupun terhadap anak maka keluarga tersebut cenderung akan memiliki ketahanan keluarga yang relatif tinggi, begitu pula sebaliknya.

Pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak tidak terlepas dari lingkungan yang merawat dan membesarkannya. Pola asuh dalam keluarga, sebagai lingkungan pertama yang dikenalnya, akan sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian anak. Dalam hal ini orangtua sangat berperan sebagai panutan anakanaknya dan setiap orangtua tentu memiliki caranya sendiri dalam mendidik dan mengasuh anak. Secara garis besar, Menurut Fahrizal Effendi (2013) terdapat tiga pola asuh orangtua yang berlaku di masyarakat yaitu

  1. Pola asuh permisif, yaitu pola asuh yang menerapkan kebebasan. Dalam pola asuh ini anak berhak menentukan apa yang akan ia lakukan dan orang tua memberikan fasilitas sesuai kemauan anak.
  2. Pola asuh demokratis, yaitu pola asuh yang menerapkan nilai-nilai demokrasi dalam keluarga. Anak dihargai haknya oleh orang tua, dan orang tua menerapkan peraturan-peraturan yang dipatuhi anak selama tidak memberatkan anak.
  3. Pola asuh otoriter, yaitu pola asuh yang menegaskan akan kekuasaan orang tua dalam mendidik anak- Orang tua menerapkan peraturan tegas dengan sanksi-sanksi, dan anak wajib patuh. Dalam pola asuh ini anak sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk memperoleh haknya.

Masing-masing pola asuh yang diterapkan oleh orang tua tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Semua tergantung dari kultur, tradisi, dan lingkungan masyarakat yang ada. Namun, seringkali dalam mendidik anak, orangtua menerapkan sanksi atau hukuman yang mengakibatkan anak menderita secara fisik ataupun psikis. Padahal hak anak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi secara tegas telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak.

Adapun jenis perilaku kekerasan yang dikumpulkan dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu 1) kekerasan psikologis dan 2) kekerasan fisik. Kekerasan psikologis yang dikumpulkan adalah perilaku orangtua yang sering memanggil anak dengan sebutan bodoh, pemalas, tidak sayang lagi, tidak berguna dan perkataan kasar/negatif lainnya, membentak serta menakuti anak. Sedangkan kekerasan fisik mencakup mengurung atau meninggalkan anak sendirian dalam kamar, mendorong/mengguncang badan, mencubit, menjewer, bahkan sampai menampar, memukul, menjambak dan menendang anak.

Permasalahan dalam keluarga berkaitan dengan peristiwa-peristiwa kehidupan seperti kehilangan pekerjaan, konflik keluarga yang menimbulkan perceraian, kehilangan keluarga inti, kehilangan pasangan (suami atau istri), terkena bencana dan salah satu anggota keluarga menjadi korban penyalahgunaan NAPZA. Maraknya peredaran Narkoba yang tumbuh kembang bersama dengan semakin mudahnya akses tekhnologi dan informasi, menjadi sebuah ancaman teresendiri bagi keluarga dalam menjaga tumbuh kembang yang sehat bagi anggota keluarganya. Tidak ada satupun keluarga yang terbebas dari ancaman bahaya peredaran dan penyalahgunaan Narkoba, sehingga resiliensi keluarga menjadi penting, karena keterlibatan salah satu anggota keluarga dalam masalah peredaran dan penyalahgunaan narkoba, baik menjadi pengguna maupun pengedar, akan menimbulkan dampak negatif bagi tumbuh kembang dan pelaksanaan fungsi dan peran sosial sebuah keluarga.

Ketahanan keluarga, menurut Walsh (2006), didefinisikan sebagai proses coping dan adaptasi dalam keluarga sebagai kesatuan fungsional. Ketahanan keluarga tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan keluarga bertahan dari krisis, tapi juga menawarkan kesempatan untuk berkembang dari krisis (Black & Lobo, 2008). Menurut Walsh, tiga komponen proses kunci dalam mengembangkan konsep ketahanan keluarga, yaitu Sistem Keyakinan, Pola Organisasi, dan Proses Komunikasi.

Remaja mengalami berbagai konflik, baik sosial maupun psikis, bagi dirinya sendiri, semua itu dilakukan remaja dalam rangka mencari identitas diri. Remaja sangat memerlukan bimbingan dan arahan yang baik dari orangtua khususnya dan masyarakat pada umumnya, agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang negatif salah satunya penyalahgunaan narkoba. Untuk membimbing remaja, baik keluarga maupun masyarakat diperlukan sikap yang bijaksana, artinya tingkah laku remaja jangan dijadikan tumpuhan kesalahan, karena di balik perilaku tersebut tentu ada penyebabnya, dengan memahami remaja dengan bijak melalui ciri khasnya, baik watak, sikap maupun perkembangannya dapat mencegah remaja ke dalam perilaku yang tidak negatif. Remaja sebagai generasi muda dan merupakan potensi bagi pembangunan bangsa, untuk dapat mewujudkan remaja sebagai manusia yang berdaya guna, tentunya banyak tantangan yang harus dihadapi, karena remaja dalam proses perkembangannya akan mengalami pervariabel baik fisik, psikis, maupun sosial.

Remaja dapat berdaya guna, dan menyelesaikan tugas perkembangannya dengan baik, tetapi membutuhkan bantuan orang lain, terutama keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat dan merupakan lembaga yang fundamental dan lembaga pendidikan pertama yang mempunyai tugas dalam pembentukan jiwa generasi penerus, menumbuhkan dan memupuk jiwa besar, berdisiplin serta bertanggungjawab. Peranan orangtua dan keluarga sebagai sumber daya keluarga sangat penting artinya bagi perkembangan anak, karena anak mendapat pendidikan yang pertama dari keluarganya terutama orangtua, melalui melihat, meniru, mencontoh dan mengikuti yang dilakukan orangtua. Menurut Kartini Kartono (1990), bahwa identifikasi dengan salah satu orangtuanya dapat memperkokoh pertumbuhan mental dan perkembangan kepribadian anak remaja.

Sumber daya keluarga merupakan semua sumber yang terdapat di dalam keluarga, dibagi menjadi dua (Amato dan Ochiltree, 1986), yaitu sumber daya keluarga yang bersifat fisik dan sumber daya keluarga yang bersifat psikis. Sumber daya keluarga yang bersifat fisik meliputi pendapatan, status pekerjaan dan pendidikan orangtua, kepadatan dan kualitas tempat tinggal, kualitas dalam hidup bertetangga, jumlah orang dewasa yang hidup bersama serta kesehatan orangtua. Sumber daya keluarga yang bersifat psikis merupakan sumber di dalam keluarga yang meliputi aspirasi dan harapan orangtua, komunikasi verbal antara orangtua dan anak, bantuan dan perhatian yang diberikan oleh orangtua kepada anak, serta kedekatan keluarga dan konflik keluarga yang timbul. Faktor perhatian orangtua mengungkap persepsi anak mengenai usaha orangtua untuk memberi perhatian terhadap keadaan keluarga, perkembangan sosial anak, sekolah anak, disiplin anak, serta pendidikan agama dan pendidikan etika anak.

Berkaitan dengan kesehatan mental,penerimaan, kasih sayang, keterlibatan dan perhatian yang besar dari orangtua diperlukan agar timbul rasa aman pada remaja. Rees dan Wilbon (Purwani Trangwesti, 1992) menemukan, bahwa remaja pecandu obat-obat terlarang menganggap orangtua mereka terlalu ikut campur, berkuasa, memberi perlindungan yang berlebihan dan sering menyalahkan. Mereka juga memandang orangtua kurang mempunyai arah dalam berperan sebagai orangtua. Sebaliknya, remaja yang tidak terlibat dalam penggunaan obat-obat terlararng menerima orangtua sebagai pendorong kemampuan sosial dan mendukung berpikir mandiri, mereka juga memandang orangtua dan melakukan pengontrolan dengan membuat aturan dan batasan dan menerapkannya secara konsisten.

Menurut Hurlock (1991), bahwa orangtua yang menerima anak apa adanya akan mampu menjalin hubungan yang penuh perhatian dan cinta kasih, dan dengan sepenuhnya memperhatikan perkembangan kemampuan dan minat anak. Hubungan semacam ini memungkinkan anak mampu bersosialisasi dengan baik dan mempunyai emosi yang stabil serta gembira. Barnes (Purwani Trangesti, 1992) menemukan dalam penelitiannya, bahwa adanya sumber daya keluarga yang tinggi dari orangtua disertai dengan kontrol yang cukup, mempunyai pengaruh yang kuat mencegah keterlibatan remaja dalam penyalahgunaan narkoba. Menurut Barnes, sumber daya keluarga adalah perbuatan orangtua kepada anaknya yang menunjukkan bahwa anak diterima, dicintai dan diakui oleh orangtuanya. Sumber daya keluarga ini meliputi pemberian pujian, dorongan, afeksi secara fisik serta bantuan. Winfree (Ikawati dan Akhmad Purnama,1998) dalam penelitiannya menemukan, bahwa konflik antara remaja dengan orangtua menyebabkan meningkatnya keterlibatan remaja dalam penyalahgunaan zat.

Remaja penyalahguna narkoba mempunyai anggapan yang negatif terhadap peran orangtua, keterlibatan remaja dalam penyalahgunaan narkoba dipengaruhi oleh ketidakpuasan remaja terhadap hubungan dalam keluarga. Pentingnya sumber daya keluarga dalam mencegah keterlibatan remaja dalam penggunaan narkoba, karena remaja penyalahguna narkoba kurang mendapat sumber daya keluarga. Dalam ungkapan lain, remaja yang tidak terlibat dalam penyalahgunaan narkoba mendapatkan sumber daya keluarga yang lebih baik daripada remaja penyalahguna narkoba.

Keluarga merupakan unit pertama yang dikenal anak dan sekaligus tempat pertama seorang anak bersosialisasi, sehingga keluarga sangat penting peranannya dalam pembentukan sikap remaja. Sumber daya keluarga fisik seperti pendapatan, status pekerjaan, pendidikan orangtua, kualitas tempat tinggal dan status kesehatan orangtua. Sumber daya keluarga yang bersifat psikis seperti aspirasi, harapan, komunikasi verbal antara orangtua-remaja, bantuan dan perhatian, kedekatan dan konflik yang timbul. Sumber daya sosial seperti usaha orangtua untuk memberi perhatian anak dalam perkembangan sosial, pendidikan sekolah, disiplin anak dan agama serta etika. Ketiga sumber daya keluarga tersebut secara positif dapat mempengaruhi ketahanan keluarga, seperti adanya rasa aman pada remaja, apabila orangtua dapat mengembangkan potensi tersebut kepada anak secara baik, sehingga dapat tercegah dari penyalahgunaan narkoba.